Budidaya ayam pedaging merupakan salah satu bisnis yang menguntungkan. Pasar yang terus tumbuh diiringi dengan populasi yang terus meningkat, menyebabkan peternak semakin sulit mendapatkan lahan. Berangkat dari permasalahan itu maka, pemilihan kandang panggung terbuka adalah langkah tepat. Kelebihan dari model kandang ini selain menghemat lahan, juga baik dalam mendukung pertumbuhan ayam karena sirkulasi udara di dalam kandang lancar.
Bagaimana cara tepat budidaya ayam pedaging di kandang panggung terbuka? Ir Hari Santoso dan Ir Titik Sudaryani mengungkapkan dalam bukunya yang berjudul “Pembesaran Ayam Pedaging di Kandang Panggung Terbuka, Hari per Hari”. Buku ini sepertinya ditujukan kepada pemula. Namun menurut hemat penulis, buku ini berguna bagi siapa saja yang berkecimpung di industri perunggasan, khususnya ayam pedaging.
Buku ini disusun dengan sangat detil. Mulai dari pengenalan ayam pedaging secara umum (Bab 1), menyiapkan dan membangun kandang panggung terbuka, lengkap dengan konstruksi dan kelengkapannya (Bab 2), hingga analisa usaha (Bab 8).
Peternak pemula benar-benar bisa menjadikan buku ini sebagai teman dalam merintis usaha. Bagaimana tidak? Persiapan kandang untuk penerimaan DOC dan tahapan penerimaan DOC diurai dengan rinci (Bab 3).
Memasuki tahap pembesaran, peternak benar-benar dipandu hari per hari, mulai hari pertama hingga panen (Bab 4). Demikian pula dengan pengelolaan pakan (Bab 5), manajemen kesehatan (Bab 6), hingga pemanenan (Bab 7).
Soal analisa usaha? Jangan khawatir! Penghitungan laba/rugi, hingga pengelolaan keuntungan dijelaskan dengan sangat gamblang. Contoh penghitungan berikut contoh formulirnya, bisa anda temukan di buku yang disusun oleh alumnus Fakultas Peternakan Undip Semarang dan alumnus Fakultas Peternakan IPB Bogor ini.
Dilengkapi VCD
Salah satu yang unik dan mendorong penulis membahas dalam resensi adalah, karena buku ini dilengkapi dengan VCD berdurasi lebih dari satu jam. Mungkin ini adalah buku peternakan pertama yang dilengkapi VCD, dan menurut hemat penulis keunikan ini akan menjadi trend bagi buku-buku peternakan berikutnya.
VCD yang disediakan, akan sangat membantu peternak pemula dalam memahami budidaya ayam pedaging. Bagi peternak senior, kehadiran buku ini bisa dijadikan sebagai media komunikasi teknis dengan staf hingga tingkat operator kandang. Buku yang disusun detil dengan kelengkapan perangkat visual ini akan membantu terjalinnya komunikasi teknis, tanpa terkesan menggurui.
Bersama Anas Sudjatmiko -salah satu peternak terkemuka di wilayah Bogor Jawa barat dan Tangerang Banten- penulis sudah membuktikan komunikasi teknis dengan operator kandang terasa sangat menyenangkan. Dengan membawa laptop ke kandang, Anas bersama karyawannya bisa menikmati suasana santai sambil menonton VCD dimaksud. Sambil menonton bersama, kami berdiskusi santai dengan para operator kandang itu.
Bagi mahasiswa juga sangat berguna. Karena pengetahuan praktis akan membantu mahasiswa memahami ilmu yang mereka pelajari dan sebagai bekal kelak di dunia kerja, atau wira usaha. Saptono Adi Muryanto /
This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it
Judul buku: Pembesaran Ayam Pedaging di Kandang Panggung Terbuka, Hari per Hari
Dr Drh I Gusti Gurah Mahardika/foto Wawan Majalah Infovet
Jakarta, GopanIndonesia.com. Perdebatan soal AI pencegahan dan penanggulangannya, terus berkembang. Hal ini tentu saja terkait dengan varian virus flu yang banyak dan dinamika virusnya yang cepat. Bertolak dari faktor agen sebagaimana yang dijelaskan, sesungguhnya solusi terbaik untuk kasus AI adalah stamping out.
Namun terkait dengan kondisi lapangan, apakah hal itu dimungkinkan? Jawabnya tidak mungkin. Karena agen tidak bisa dipisahkan dengan induk semang dan lingkungan. Dinamika virus yang bervariasi dilapangan menimbulkan polemik. Dr Drh I Gusti Ngurah Mahardika dari FKH Udayana Bali, mewacanakan adanya vaksin AI yang spesifik di produksi per area. Atau vaksin polyvalen untuk semua area.
Wacana itu dilempar setelah Mahardika beserta tim pada rentang tahun 2008 hingga April 2009 lalu, melakukan analisis sekuen hemaglutinin (HA), yang dilakukan terhadap isolat-isolat AI H5N1 yang diambil dari berbagai lokasi peternakan ayam di Indonesia. “Hasil analisis menunjukkan virus-virus tersebut mengelompok menjadi 4 grup”, kata Mahardika pada seminar Up Date Virus AI, dalam rangka ulang tahun ke 24 BBPMSOH, tanggal 05 Agustus 2009.
Seminar ini merupakan rangkaian dari kegiatan yang diselenggarakan oleh BBPMSOH dalam rangka ulang tahunnya yang ke 24. Drh Agus Heriyanto MPhill selaku Kepala BBPMSOH mengatakan, “bila dihitung sejak diresmikan, maka usia BBPMSOH saat ini 24 tahun. Namun bila dihitung sejak beroperasi, maka usia BBPMSOH sudah 25 tahun”. “Jadi ulang tahun ini, bisa dikatakan sebagai ulang tahun perak”, lanjutnya. Pada kesempatan itu, tampil pula Prof Dr Drh Fedik Abdul Rantam dari FKH Unair Surabaya. Saptono Adi Muryanto/
This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it
Dunia terus berubah. Dan perubahan itu menggilas siapapun yang tidak kompromi dengannya. “Tidak ada yang mampu bertahan di dunia ini kecuali bagi mereka yang adaptif terhadap perubahan”, demikian Drh Desianto Budi Utomo MSc PhD, pada seminar CPJF di Bogor 11 Juni 2009. “Dan kunci dari kesiapan kita terhadap perubahan itu, ada pada SDM yang selalu di up date dan di up grade”, lanjutnya.
Berbicara soal perubahan, tidak terkecuali bagi industri perunggasan. Berdasarkan catatan para ahli genetik, umur ayam broiler di dunia, selalu maju satu hari setiap tahun. Dan setiap 4-5 tahun, seleksi di tingkat pure line/pedigree, selalu mengalami perubahan standar. “Ini berarti kita harus terus berubah sesuai dengan perubahan yang terjadi, dan itu berarti kita dan SDM kita, harus terus di up date dan di up grade”, kata alumnus Unair ini tegas.
Konsekuensi perubahan
Perubahan dari berkembangnya potensi genetis ayam broiler, membawa masalah baru sebagai konsekuensi dari keseimbangan alam. Broiler modern dengan pola metabolismenya yang ”radikal”, membuat broiler modern lebih “rentan” terhadap penyakit dan lebih “manja”. Detil yang harus dikerjakan dalam manajemen pemeliharaan menjadi bertambah, termasuk dalam hal vaksinasi dan kontrol penyakit.
Dari permasalahan diatas muncul terobosan-terobosan baru, untuk sedikit membantu beban kerja peternak. Salah satu terobosan diluncurkan oleh Charoen Pokphand Group. Melalui CPJF, per 1 juli 2009 nanti, CPJF akan melengkapi (baca; mem-bundling) produk DOC nya dengan vaksinasi ND+IB live, ND Kill, dan IBD live di hatchery.
Perlakuan ini sudah melalui proses uji dan evaluasi dilapangan, dan hasilnya cukup memuaskan. Saptono Adi Muryanto/
This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it
Seminar dihadiri oleh industriawan breeders, hatchery, kemitraan dan peternak komersial. Foto; Wikrama Satyadarma/Wartawan Poultry Indonesia
Infectious Bursal Disease (IBD), atau lebih dikenal dengan nama Gumboro , adalah penyakit virus yang rawan pada ayam muda. Penyakit ini bersifat panzootik alias sudah menyebar di seluruh dunia.
Nilai penting dari penyakit ini adalah karena Gumboro menyerang Bursa Fabrisius. Bursa Fabricius merupakan organ yang sangat penting bagi ayam muda untuk membangun sistem pertahanannya.
Gumboro menular melalui kontak (Highly Contagious) baik langsung, maupun melalui cemaran di kandang. Virus ini dikenal mampu bertahan hidup di kandang yang tidak bersih.Gumboro bisa menular melalui feces, alat yang terkontaminasi, bahkan franky bisa bertindak sebagai vector dari periode satu ke periode berikutnya. Gumboro tidak ditularkan secara vertikal.
Secara ekonomi, ada dua dampak penting pagi penyakit ini. Pertama, menyebabkan kematian tinggi hingga 40%. Kedua, menjadi pintu gerbang bagi infeksi sekunder.
Pencegahan
Berdasarkan dua dampak ekonomi di atas, para ahli lebih merekomendasikan upaya pencegahannya, dari pada pengobatan. Ada dua cara untuk mencegah penyakit ini yaitu, penerapan biosekuriti yang baik serta konsisten dan vaksinasi. Dalam tulisan ini, hanya akan diulas aspek vaksinasinya.
Paradigma Baru
Sebagaimana diketahui, keberhasilan vaksinasi ditentukan oleh jenis (strain) dan kualitas vaksin serta cara dan waktu pelaksanaan vaksinasi. Di sisi lain, ancaman virus di lapangan berjenis multi strain dan DOC yang dihasilkan breeders hampir selalu tidak memiliki titer maternal anti bodi yang seragam.
Menurut Prof Eddy Decuypere, ketidak seragaman titer maternal anti bodi bisa disebabkan dari ketidakseragaman induk, ketidakseragaman masa simpan telur hatching sebelum masuk mesin hatchery, bahkan ketidakseragaman ketebalan kerabang telur juga bisa menjadi masalah. “Ketidakseragaman kerabang telur akan menyebabkan suhu ruang dan kelembaban hatchery yang akan menyentuh embrio menjadi tidak seragam”, kata Prof Eddy, di Bogor 1 Juni 2009.
Melihat permasalahan di atas Prof Eddy ini mengatakan, harus ada suatu paradigma baru. Untuk itu ia menawarkan paradigma yang ia sebut ‘CEVA Hatchery Injection Control Keys’ (CHICK). “Dengan paradigm ini, vaksinasi bisa diberikan sejak ayam masih berupa embrio (belum menetas), atau saat pull chick”, jelasnya dihadapan kalangan breeders, hatchery, kemitraan dan peternak komersial.
Bagaimana mungkin? Paradigma baru ini, salah satunya menawarkan penggunaan produk CEVAC ® TRANSMUNE IBD. Produk ini, berisi strain Winterfield 2512 yang dihasilkan dari SPF Flok.
Vaksin ini bisa diaplikasikan sejak embrio umur 18 hari atau setelah ayam menetas. Dengan cara ini, vaksinasi ulang tidak dibutuhkan lagi hingga panen. Mengapa? Karena Anti Gen-AntiBody vaksin CEVAC ® TRANSMUNE IBD dilepas secara bertahap ke dalam sistem peredaraan darah ayam. Saptono Adi Muryanto/
This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it
Tahun ini target produksi jagung mencapai 18 juta ton pipilan kering.
Produksi jagung nasional akan mengalami lonjakan pada musim panen Februari – Maret 2009, hingga diperkirakan mengalami surplus 500ribu sampai satu juta ton. Kini permintaan dunia tengah melemah hingga harga jagung turun dipasaran.
Secara nasional tahun ini Departemen Pertanian (Deptan RI) menargetkan produksi jagung mencapai 18juta ton pipilan kering, yang diperoleh dari luas tanam 4,28 juta hektar (ha) dengan produktifitas 44,12 kuintal per ha.
Ketua Dewan Jagung Nasional, Fadel Muhammad, kepada Jurnal Nasional, kamis (29/1) mengatakan, untuk mengantisipasi harga tak makin jatuh surplus jagung akan diekspor . “Maret ini, kita akan kumpulkan pengusaha untuk siap menampung surplus produksi jagung itu,” katanya di Jakarta.
Dia mengatakan, permintaan dunia terhadap berbagai komoditas pangan termasuk jagung memang sedang menurun. Hingga harga jagung di pasaran internasional sedang tidak bagus. Semua itu, ujar dia, terkait krisis ekonomi global melanda dunia.
Fadel menambahkan, pasaran ekspor merupakan salah satu langkah mengingat serapan dalam negeri sudah maksimal terutama bagi industri pakan ternak. Meski harga jagung di pasaran Amerika dan Eropa jatuh, untuk harga di Asia masih cukup bagus. Harga di Asia menembus harga Rp 1.600,- per Kg. “Harga di pasaran ekspor masih menguntungkan petani karena biaya produksi jagung di kisaran harga Rp 900 per Kg”.
Dia khawatir, jika surplus produksi tidak segera diantisipasi dengan pemasaran ke luar negeri akan menurunkan harga di dalam negeri. “ Pasokan yang terlalu besar jelas tidak menguntungkan bagi produsen, dalam hal ini petani,” Kata Fadel.
Gubernur Gorontalo ini mencontohkan harga jagung di Gorontalo masih cukup bagus, yaitu mencapai Rp 1.750,- per Kg karena sudah kontrak jangka panjang dengan Malaysia. Untuk itu, daerah produsen lain bias mengambil langkah yang sama.
Dirjen Tanaman Pangan Depta RI, Sutarto Alimoeso mengatakan, produksi jagung nasional tahun 2008 sebanyak 15,86 juta ton, kebutuhan dalam negeri 13 juta ton. Produksi naik dari 2007 yang hanya 13, 29 juta ton.
Upaya mencapai produksi jagung, katanya, dengan peningkatan produktifitas, perluasan area tanam, pengamanan produksi, permberdayaan kelembagaan pertanian dan dukungan pembiayaan.
Peluang terbesar pencapaian sasaran ini melalui peningkatan produktifitas, hingga diperlukan penggunaan benih unggul bermutu terutama benih hibrida serta pemanfaatan pupuk berimbang dan organik. “Penggunaan benih jagung hibrida pada 2009 meningkat hingga 10 persen untuk menaikkan produksi jagung nasional.”
Menurut Sutarto, salah satu penyebab rendahnya produksi jagubg dalam negeri karena produktifitas tanaman masih minim. Hanya dua sampai tiga ton per hektar. “Karena penggunaan benih hibrida di kalangan petani masih rendah.”
Pada tahun 2009, pemerintah menyiapkan bantuan benih jagung melalui SL-PTT (Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu) seluas 90ribu ha, Bantuan Langsung Benih Unggul (BLBU) 403ribu ha, Cadangan Benih Nasional (CBN) 333ribu ha, kemitraan dengan swasta 100ribu ha. Sumber; Jurnal Nasional 30 Jan 2009