BANTEN- Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu mengatakan permintaan kebutuhan pokok atau sembako mengalami peningkatan hingga 20 persen selama bulan Ramadan hingga menjelang Lebaran jika dibandingkan dengan hari biasa.
“Jumlah permintaan atas kebutuhan pokok di bulan Ramadan seperti ini memang mengalami peningkatan. Hal ini juga telah menyebabkan adanya kenaikan harga kebutuhan pokok di pasaran. Namun hal ini tidak perlu dikhawatirkan, karena kenaikan harganya masih dalam batas toleransi dan kerap kali terjadi di setiap tahun,” ungkap Mendag di sela kegiatan peninjauan di Pasar Babakan, Tangerang, Kamis (27/8).
Beberapa jenis bahan pokok yang mengalami kenaikan harga di pasar tradisional tersebur, antara lain, bawang putih, daging sapi, daging ayam, cabai, gula, dan telur. Mendag menyebutkan, kenaikan harga untuk cabai merah, daging, telur dan daging ayam saat ini bisa dikatakan mencapai 5-10 persen.
Pengakuan dari beberapa pedagang, kenaikan harga tersebut sudah terjadi sebelum masuknya bulan puasa. Kenaikan harga yang tertinggi ditemukan gula yang naik dari Rp8.500 per kilogram menjadi Rp10.500 per kilogram.
Harga bawang putih saat ini berada di kisaran Rp12 ribu per kilogram, harga cabai naik menjadi Rp13 ribu per kilogram. Sedangkan untuk harga daging sapi dan daging ayam di pasaran saat ini masing-masing seharga Rp70 ribu per kilogram dan Rp25 ribu per ekor.
Sementara itu beberapa komoditi relatif stabil seperti beras, telur dan tepung terigu. (sumber; cha/JPNN)
JAKARTA, Pakar marketing Hermawan Kertajaya memprediksikan lanskap bisnis dan dunia marketing Indonesia pada semester kedua tahun 2009 akan semakin positif dan menjanjikan bagi para pemasar dan pelaku bisnis.
Keyakinan ini didasarkan pada kondisi perekonomian Indonesia yang semakin menguat setelah melalui dua perstiwa penting pada tahun ini, yakni rangkaian Pileg dan Pilpres 2009 serta pengeboman di kawasan Mega Kuningan pada Juli lalu.
"Meski aksi terorisme berhasil sedikit 'menyentil' pasar, namun keseluruhan situasi politik pascapileg dan pilpres relatif aman. Ekonomi justru semakin membaik karena kepercayaan diri konsumen meninggi," kata Hermawan dan Markplus Dinner Semester I Review and Semester II Outlook 2009, di Four Season Hotel, Jakarta, Kamis (27/8).
Aksi terorisme, menurut pengamatan Hermawan, justru menguatkan citra positif Indonesia di luar negeri sebagai negara yang ekonominya sangat menjanjikan. Kinerja bursa berlangsung bagus dan jumlah wisatawan relatif tidak terganggu pascapengeboman. "Tingkat consumer confidence malah semakin optimistis, bahkan tertinggi di dunia. Kita sudah kebal teror," ungkapnya.
Adapun situasi politik nasional juga dinilai cukup kondusif bagi peluang pemasaran dan perkembangan bisnis. Penyelenggaraan pileg dan pilpres yang berlangsung aman beberapa waktu lalu menjadi jaminan bagi para pemasar dan pebisnis untuk mengembangkan peluang bisnisnya.
"Dilihat dari situ, sistem politik dan demokrasi kita sudah cukup mantap. Ini peluang cerah bagi para marketer di semester kedua 2009," katanya.
Direktur perusahaan konsultan marketing, Markplus, ini mengimbau agar para pemasar dan pelaku bisnis agar segera mengambil peluang bisnis yang sangat terbuka pada semester kedua ini. "Saat ini peluang untuk take-off sedang bagus-bagusnya. Di tengah situasi yang membaik lebih cepat dari yang diperkirakan sudah selayaknya para pemasar berani melangkah lebih jauh," tandasnya. Sumber; Kompas.com
Menyambung tulisan sebelumnya, rekonstruksi Gintung Perunggasan Nasional nampaknya mendesak untuk dilakukan. Persoalan ini kritis karena berbagai sumber menyebutkan, kepemilikan produk unggas ditingkat peternak tidak lebih dari 30%. Akibatnya, peternak tidak mampu mengendalikan pasar. Dalam kondisi seperti ini, peternak sulit bertahan dan banyak yang harus gulung tikar.
Haruskah peternak menguasai pasar?
Direktur Jenderal Perkebunan Deptan RI Ir Achmad Mangga Barani MM. Kepada wartawan tanggal 06 April 2009 di Jakarta mengatakan, petani tidak mungkin menguasai pasar. “Untuk bisa mengelola pasar dengan baik, dibutuhkan investor untuk menggerakannya. Namun, harus tetap ada keseimbangan. Nah, kunci dari keseimbangan pasar adalah kepemilikan dari komoditas. Komoditas harus sebagian besar dimiliki (baca; dikuasai) petani”, katanya.
Mungkin tidak sama persis karena Mangga bercerita soal sawit, sedangkan yang disajikan www.gopanindonesia.com dalam tulisan ini soal ayam. Akan tetapi, apa yang disampaikan Mangga, menyiratkan substansi yang sama. Yaitu, bagaimana industri berbasis pertanian dibangun dengan menempatkan petani-peternak sebagai garda depan.
Apakah hal ini bisa terjadi? Bagaimana memulainya? Mangga mengatakan, harus ada keperpihakan dari pemerintah. Harus ada kebijakan atau grand design yang konsisten. Dan harus ada target yang jelas, akan dibawa kemana pembangunan pertanian nasional. Saptono Adi Muryanto
Pemerintah dan GOPAN bersama stakeholder perunggasan lainnya, diharapkan bisa menjaga agar Gintung Perunggasan Nasional (baca; pasar perunggasan) terjaga dengan baik. Foto; Saptono Adi Muryanto / www.gopanindonesia.com
Situ Gintung. Siapa yang saat ini tidak mengenal nama itu? Situ yang terletak di Cirendeu Ciputat Tangerang Banten ini, pada 27 Maret 2009 secara mengejutkan jebol. Jebolnya situ itu juga seperti mengelabui. Sekitar pukul 02 dini hari, tanggul situ yang dibangun pada 1932 tersebut tak kuasa menahan derasnya arus. Peristiwa ini baru diketahui masyarakat luas (pers) sekitar pukul 05 pagi.
Sudah seperti lazimnya setelah musibah terjadi, pihak yang terkait saling melempar tanggung jawab. Namun yang pasti, Situ yang selesai dibangun Pemerintah Kolonial Belanda pada tahun 1933 itu, ternyata fungsi dan perawatannya tidak dijaga dengan baik.
Dilaporkan, pintu air yang seharusnya mengalirkan air keluar Situ sudah tidak berfungsi dengan baik. Akibatnya, saat terjadi perubahan ekstrem seperti iklim, curah hujan meninggi, tanggul tidak mampu menahan karena air yang meluap. Situasi semakin parah, ketika ternyata lahan penyangga sekitar situ dimanfaatkan untuk permukiman.
Gintung Perunggasan
Peristiwa Situ Gintung hendaknya dijadikan peringatan bagi kita semua. Tidak terkecuali insan perunggasan nasional. Situ Gintung seumpama pasar ayam hidup, seolah ‘dipaksa’ untuk menampung semua aliran. Entah itu aliran besar atau kecil, tumplek blek di Situ itu.
Disisi lain, penyangga-penyangga berupa pintu-pintu air (baca; RPU dan CS) tidak berfungsi atau berperan dengan baik. Akibatnya bisa ditebak. Meledaklah pasar perunggasan yang hanya seluas Situ Gintung itu.
Upaya untuk memperluas pasar dengan promosi juga sangat terbatas. Sementara proses pendangkalan (baca; kejenuhan pasar) terus bergerak.
Insan perunggasan terlena. Harga DOC yang terlalu tinggi (Rp 3.850,- s/d Rp 4.050,-) sejak Februari 2009 lalu, telah memorak-porandakanpasar perunggasan. Insan perunggasan terlena. Insan perunggasan terlelap dalam indahnya malam. Harga DOC yang melambung itu, pertanda DOC langka. Dengan demikian, maka suplai ayam hidup akan sedikit.
Dus! Harga pasti baik!
Ternyata tidak, insan perunggasan dibuat terkejut. Asumsi suplai ayam hidup terkendali, ternyata tidak terjadi. Akibatnya, sejak tanggal 30 Maret 2009, pasar perunggasan yang hanya sebesar Situ Gintung itu jebol tak terkendali.
Disaat-saat seperti diatas, saatnya untuk pemerintah menjadi tumpuan bagi mereka yang terimbas. Dan langkah kedepan diharapkan pemerintah bersama GOPAN dan stakeholder perunggasan lainnya, bisa saling mendukung untuk perunggasan nasional. Saptono Adi Muryanto
Perubahan pola komoditas hewan ternak di AS sejak kebangkrutan Lehman Brothers, sebagaimana dilaporkan www.Bloomberg.com mengalami pergeseran trend. Permintaan daging sapi, kambing dan babi menunjukkan trend menurun. Sebaliknya, permintaan daging ayam yang lebih murah menunjukkan trend meningkat. Bahkan kenaikan permintaan daging ayam siap menciutkan pasar daging sapi, kambing dan babi di AS.
AS adalah negara dengan perekonomian terbesar di dunia yang masih berjuang mengatasi resesi ekonomi.
Bloomberg sebagaimana dikutip Bisnis Indonesia melaporkan, harga daging kambing, sapi dan babi tergelincir ke level terendah sejak kebangkrutan Lehman Brothers pada September 2008. Laporan Deutsche Bank AG menyebutkan perubahan minat konsumen itu kepada ‘protein yang lebih murah’ akan menguntungkan peternak ayam.
Perubahan pola konsumsi daging di AS itu juga mencerminkan kenaikan aksi proteksi perdagangan dan resesi global sekaligus menjadikan bursa komoditas lebih kompetitif. Selain itu, pelemahan permintaan akan mempersulit upaya President Barack Obama memulihkan perekonomian AS.