No account yet? Register

Image
Mencuat Usulan Vaksin AI Polyvalen PDF Print E-mail
Written by Gopan Indonesia   
Tuesday, 18 August 2009
Image
Dr Drh I Gusti Gurah Mahardika/foto Wawan Majalah Infovet
 
Jakarta, GopanIndonesia.com. Perdebatan soal AI pencegahan dan penanggulangannya, terus berkembang. Hal ini tentu saja terkait dengan varian virus flu yang banyak dan dinamika virusnya yang cepat. Bertolak dari faktor agen sebagaimana yang dijelaskan, sesungguhnya solusi terbaik untuk kasus AI adalah stamping out.
 
Namun terkait dengan kondisi lapangan, apakah hal itu dimungkinkan? Jawabnya tidak mungkin. Karena agen tidak bisa dipisahkan dengan induk semang dan lingkungan. Dinamika virus yang bervariasi dilapangan menimbulkan polemik. Dr Drh I Gusti Ngurah Mahardika dari FKH Udayana Bali, mewacanakan adanya vaksin AI yang spesifik di produksi per area. Atau vaksin polyvalen untuk semua area.
 
Wacana itu dilempar setelah Mahardika beserta tim pada rentang tahun 2008 hingga April 2009 lalu, melakukan analisis sekuen hemaglutinin (HA), yang dilakukan terhadap isolat-isolat AI H5N1 yang diambil dari berbagai lokasi peternakan ayam di Indonesia. “Hasil analisis menunjukkan virus-virus tersebut mengelompok menjadi 4 grup”, kata Mahardika pada seminar Up Date Virus AI, dalam rangka ulang tahun ke 24 BBPMSOH, tanggal 05 Agustus 2009.
 
Seminar ini merupakan rangkaian dari kegiatan yang diselenggarakan oleh BBPMSOH dalam rangka ulang tahunnya yang ke 24. Drh Agus Heriyanto MPhill selaku Kepala BBPMSOH mengatakan, “bila dihitung sejak diresmikan, maka usia BBPMSOH saat ini 24 tahun. Namun bila dihitung sejak beroperasi, maka usia BBPMSOH sudah 25 tahun”. “Jadi ulang tahun ini, bisa dikatakan sebagai ulang tahun perak”, lanjutnya. Pada kesempatan itu, tampil pula Prof Dr Drh Fedik Abdul Rantam dari FKH Unair Surabaya. Saptono Adi Muryanto/ This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it
Last Updated ( Tuesday, 18 August 2009 )
Read more...
 
Tangkal Gumboro Dengan Satu Kali Vaksinasi PDF Print E-mail
Written by Gopan Indonesia   
Tuesday, 09 June 2009

Image

Seminar dihadiri oleh industriawan breeders, hatchery, kemitraan dan peternak komersial. Foto; Wikrama Satyadarma/Wartawan Poultry Indonesia

 

Infectious Bursal Disease (IBD), atau lebih dikenal dengan nama Gumboro , adalah penyakit virus yang rawan pada ayam muda. Penyakit ini bersifat panzootik alias sudah menyebar di seluruh dunia.

Nilai penting dari penyakit ini adalah karena Gumboro menyerang Bursa Fabrisius. Bursa Fabricius merupakan organ yang sangat penting bagi ayam muda untuk membangun sistem pertahanannya.

Gumboro menular melalui kontak (Highly Contagious) baik langsung, maupun melalui cemaran di kandang. Virus ini dikenal mampu bertahan hidup di kandang yang tidak bersih.  Gumboro bisa menular melalui feces, alat yang terkontaminasi, bahkan franky bisa bertindak sebagai vector dari periode satu ke periode berikutnya. Gumboro tidak ditularkan secara vertikal.

 Secara ekonomi, ada dua dampak penting pagi penyakit ini. Pertama, menyebabkan kematian tinggi hingga 40%. Kedua, menjadi pintu gerbang bagi infeksi sekunder.

Pencegahan

Berdasarkan dua dampak ekonomi di atas, para ahli lebih merekomendasikan upaya pencegahannya, dari pada pengobatan.  Ada dua cara untuk mencegah penyakit ini yaitu, penerapan biosekuriti yang baik serta konsisten dan vaksinasi. Dalam tulisan ini, hanya akan diulas aspek vaksinasinya.

Paradigma Baru

Sebagaimana diketahui, keberhasilan vaksinasi ditentukan oleh jenis (strain) dan kualitas vaksin serta cara dan waktu pelaksanaan vaksinasi. Di sisi lain, ancaman virus di lapangan berjenis multi strain dan DOC yang dihasilkan breeders hampir selalu tidak memiliki titer maternal anti bodi yang seragam.

Menurut Prof Eddy Decuypere, ketidak seragaman titer maternal anti bodi bisa disebabkan dari ketidakseragaman induk, ketidakseragaman masa simpan telur hatching sebelum masuk mesin hatchery, bahkan ketidakseragaman ketebalan kerabang telur juga bisa menjadi masalah. “Ketidakseragaman kerabang telur akan menyebabkan suhu ruang dan kelembaban hatchery yang akan menyentuh embrio menjadi tidak seragam”, kata Prof Eddy, di Bogor 1 Juni 2009.       

Melihat permasalahan di atas Prof Eddy ini mengatakan, harus ada suatu paradigma baru. Untuk itu ia menawarkan paradigma yang ia sebut ‘CEVA Hatchery Injection Control Keys’ (CHICK). “Dengan paradigm ini, vaksinasi bisa diberikan sejak ayam masih berupa embrio (belum menetas), atau saat pull chick”, jelasnya dihadapan kalangan breeders, hatchery, kemitraan dan peternak komersial.

Bagaimana mungkin? Paradigma baru ini, salah satunya menawarkan penggunaan produk CEVAC ® TRANSMUNE IBD. Produk ini, berisi strain Winterfield 2512 yang dihasilkan dari SPF Flok.

Vaksin ini bisa diaplikasikan sejak embrio umur 18 hari atau setelah ayam menetas. Dengan cara ini, vaksinasi ulang tidak dibutuhkan lagi hingga panen. Mengapa? Karena Anti Gen-AntiBody vaksin  CEVAC ® TRANSMUNE IBD dilepas secara bertahap ke dalam sistem peredaraan darah ayam. Saptono Adi Muryanto/ This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it

Last Updated ( Tuesday, 09 June 2009 )
Read more...
 
Virus AI Seperti Gadis Yang Lepas Kontrol PDF Print E-mail
Written by Gopan Indonesia   
Monday, 23 February 2009

Image 

Melina Jonas saat menyampaikan presentasinya. foto; Saptono Adi Muryanto/gopanindonesia.com

 

PT Medion Farma Jaya adalah perusahaan farmasi veteriner yang dikenal dekat dengan peternak. Sebagai perusahaan, Medion tidak hanya menjual, namun juga menghadirkan layanan purna jual yang komprehensif. Tidak hanya pendampingan teknis, training regular untuk staf peternak pun terus bergulir. Dan secara teratur, Medion juga menggelar road show untuk berinteraksi langsung dengan peternak di daerah peternak itu berada.

Seperti yang berlangsung di Tangerang, 18 Februari 2009 lalu. Pada kesempatan ini, Medion mengambil tema, ‘Dinamika Virus AI dan Solusinya’. Materi di sampaikan oleh Melina Jonas Senior Manager of research and Development Medion. Ahli microbiology lulusan University of California USA ini, menggambarkan dinamika mutasi virus AI seperti seorang gadis yang sedang mekar merekah mengundang sejuta kumbang.

Narasi ceritanya begini, Putri adalah seorang gadis yang sudah beranjak dewasa. Putri adalah gadis lugu yang sangat cantik dan cerdas. Karena sudah dewasa, tibalah saat si putri harus meneruskan sekolah hingga pada jenjang perguruan tinggi di luar kota. Putri termasuk gadis yang beruntung. Ia lahir dari keluarga berada, meskipun sangat konservatif. Saking sayangnya si ayah. Putri diberi apartement untuk menunjang studinya.

Alangkah senangnya putri. Ia seperti burung yang terlepas bebas. Semasa berkumpul dengan keluarga, ia bag burung di sangkar emas. Akibatnya bisa ditebak. Putri terjebak pada pergaulan bebas. Dan akibat lebih lanjut, putri pun hamil.

Mendengar perihal tersebut, ayah putri marah.. malu.. “Siapa ayah dari anak yang dikandung putriku?”, katanya dengan mata nanar. Celaka.. setelah ditelusuri ternyata si putri tidak bisa menunjukkan laki-laki mana yang telah menghamilinya. Bingung.. lelaki mana yang sesungguhnya ayah dari si jabang bayi?? Laki-laki itu ternyata tidak satu. Dan bahkan putri sudah lupa berapa jumlah laki-laki itu.

Itulah gambaran sederhana Melina Jonas terhadap dinamika mutasi virus AI yang terjadi saat ini. “Tidak bisa dipastikan, dari kelompok mana virus yang ditemukan di suatu farm. Harus dilakukan identifikasi khusus, sehingga bisa ditentukan dari kelompok mana virus AI tersebut”, katanya.

Terkait permasalahan tersebut, saat ini Medion beserta tim telah, sedang dan akan terus melakukan penelitian. Saat ini Medion aktif mengumpulkan sampel-sampel dari kandang peternak, untuk diteliti difasilitas BSL3 Medion.  

Diperlukan kerja sama

Sebagai penutup, Peter Yan selaku Vice Presiden PT Medion menjelaskan, permasalahan diatas memang kompleks, namun semua pasti ada solusinya. Salah satu solusi yang harus ditempuh adalah, selalu menyesuaikan seed vaksin dengan dinamika virus yang terjadi dilapangan. Dan Peter mengingatkan, vaksin bukan satu-satunya. Faktor biosekurity dan manajemen kandang juga sangat menentukan. “Titer tinggi sering kali tidak protektif, karena faktor lain diluar titer tidak diperhatikan”, tegas Peter.

Dari permasalahan terbut, apa yang harus dilakukan peternak? Kepada peternak, Peter meminta kerjasama dan keterbukaan para peternak kepada Medion. “Semua ini untuk mencapai hasil terbaik”, paparnya. Saptono Adi Muryanto

Last Updated ( Monday, 23 February 2009 )
Read more...
 
Penyakit Unggas 2009 Masih Klasik Namun Jangan Terlena PDF Print E-mail
Written by Gopan Indonesia   
Monday, 22 December 2008
Image

Penyakit klasik masih menempati urutan teratas pada peternakan ayam broiler di tahun 2008. Info Medion Edisi Desember 2008 menyebutkan, dalam rentang waktu lima bulan diawal tahun 2008, penyakit klasik seperti CRD, CRD Kompleks, dan Colibacillosis menempati urutan teratas pada ayam broiler. Sementara ND, Koriza dan Kolera masih terus menjadi masalah pada ayam layer.

 

Penyakit-penyakit diatas dikatakan klasik, karena kejadiannya selalu berulang dan menunjukkan kejadian yang relatif tidak berbeda dalam setiap periode waktu. Untuk kasus AI, berdasarkan pengamatan dilapangan terus menunjukkan angka yang menurun. Bahkan untuk ayam broiler sudah tidak ada laporan lagi. Namun demikian, berbagai pihak meminta agar peternak tidak terlena. Biosekurity harus tetap dilaksanakan dengan konsisten. Dan untuk ayam petelur disarankan untuk melaksanakan program vaksinasi dengan tepat dan tentu saja dengan tetap melaksanakan program biosekurity-nya.

 

Masih klasik

 

Berdasarkan data-data yang dikumpulkan Info Medion melalui staf lapangannya, Info Medion menarik kesimpulan, bahwa penyakit yang terjadi ditahun 2008, masih relatif sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Namun Info Medion mengingatkan, agar peternak tidak terlena, karena beberapa kasus menunjukkan kompleksitasnya.

 

Oleh karena itu, disarankan agar peternak memperhatikan masa istirahat kandang selama minimal 14 hari, menerapkan program sanitasi dengan benar, dan melaksanakan sistem peternakan all in all out. Mengenai program pengobatan, Info Medion menekankan perlunya ketepatan dalam memilih jenis obat, ketepatan dalam penghitungan dosis, dan ketepatan dalam teknis pemberian obat.

 

Ketepatan jenis obat bisa diketahui melalui sensitifity test secara berkala. Mintalah produsen obat mitra anda untuk melaksanakan sensitifity test di farm anda. Ketepatan dalam menghitung dosis, sangat terkait dengan teknis pemberian obat. Disarankan agar obat yang diberikan dilarutkan dalam air yang terbatas. Sedemikian rupa sehingga ayam meminumnya dengan merata dan habis tidak lebih dari lima jam. Bila lebih dari lima jam, dikhawatirkan obat terlarut akan berkurang khasiatnya. Saptono Adi Muryanto    

 

   

Last Updated ( Monday, 22 December 2008 )
Read more...
 
RocketTheme Joomla Templates