No account yet? Register

Image
Produksi Jagung Naik PDF Print E-mail
Written by Gopan Indonesia   
Friday, 13 March 2009

Tahun ini target produksi jagung mencapai 18 juta ton pipilan kering.

Produksi jagung nasional akan mengalami lonjakan pada musim panen Februari – Maret 2009, hingga diperkirakan mengalami surplus 500ribu sampai satu juta ton. Kini permintaan dunia tengah melemah hingga harga jagung turun dipasaran.

Secara nasional tahun ini Departemen Pertanian (Deptan RI) menargetkan produksi jagung mencapai 18juta ton pipilan kering, yang diperoleh dari luas tanam 4,28 juta hektar (ha) dengan produktifitas 44,12 kuintal per ha.

Ketua Dewan Jagung Nasional, Fadel Muhammad, kepada Jurnal Nasional, kamis (29/1) mengatakan, untuk mengantisipasi harga tak makin jatuh surplus jagung akan diekspor . “Maret ini, kita akan kumpulkan pengusaha untuk siap menampung surplus produksi jagung itu,” katanya di Jakarta.

Dia mengatakan, permintaan dunia terhadap berbagai komoditas pangan termasuk jagung memang sedang menurun. Hingga harga jagung di pasaran internasional sedang tidak bagus. Semua itu, ujar dia, terkait krisis ekonomi global melanda dunia.

Fadel menambahkan, pasaran ekspor merupakan salah satu langkah mengingat serapan dalam negeri sudah maksimal terutama bagi industri pakan ternak. Meski harga jagung di pasaran Amerika dan Eropa jatuh, untuk harga di Asia masih cukup bagus. Harga di Asia menembus harga Rp 1.600,- per Kg. “Harga di pasaran ekspor masih menguntungkan petani karena biaya produksi jagung di kisaran harga Rp 900 per Kg”.

Dia khawatir, jika surplus produksi tidak segera diantisipasi dengan pemasaran ke luar negeri akan menurunkan harga di dalam negeri. “ Pasokan yang terlalu besar jelas tidak menguntungkan bagi produsen, dalam hal ini petani,” Kata Fadel.

Gubernur Gorontalo ini mencontohkan harga jagung di Gorontalo masih cukup bagus, yaitu mencapai Rp 1.750,- per Kg karena sudah kontrak jangka panjang dengan Malaysia. Untuk itu, daerah produsen lain bias mengambil langkah yang sama.

Dirjen Tanaman Pangan Depta RI, Sutarto Alimoeso mengatakan, produksi jagung nasional tahun 2008 sebanyak 15,86 juta ton, kebutuhan dalam negeri 13 juta ton. Produksi naik dari 2007 yang hanya 13, 29 juta ton.

Upaya mencapai produksi jagung, katanya, dengan peningkatan produktifitas, perluasan area tanam, pengamanan produksi, permberdayaan kelembagaan pertanian dan dukungan pembiayaan.

Peluang terbesar pencapaian sasaran ini melalui peningkatan produktifitas, hingga diperlukan penggunaan benih unggul bermutu terutama benih hibrida serta pemanfaatan pupuk berimbang dan organik. “Penggunaan benih jagung hibrida pada 2009 meningkat hingga 10 persen untuk menaikkan produksi jagung nasional.”

Menurut Sutarto, salah satu penyebab rendahnya produksi jagubg dalam negeri karena produktifitas tanaman masih minim. Hanya dua sampai tiga ton per hektar. “Karena penggunaan benih hibrida di kalangan petani masih rendah.”

Pada tahun 2009, pemerintah menyiapkan bantuan benih jagung melalui SL-PTT (Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu) seluas 90ribu ha, Bantuan Langsung Benih Unggul (BLBU) 403ribu ha, Cadangan Benih Nasional (CBN) 333ribu ha, kemitraan dengan swasta 100ribu ha. Sumber; Jurnal Nasional 30 Jan 2009

Read more...
 
Daewoo-Cheil Garap Jagung US$ 50 Juta PDF Print E-mail
Written by Gopan Indonesia   
Friday, 13 March 2009

Dua Perusahaan Korea Selatan, PT Daewoo Logistic Indonesia dan Cheil Jedang Samsung, segera membangun industri pengolahan jagung terintegrasi di Pulau Buru dan Sumba. Investasinya senilai US$ 50 Juta (Rp 568 miliar).

“Industri jagung terintergrasi Daewoo-Cheil Jedang mulai dibangun awal 2009, dan diharapkan pabrik sudah berproduksi pertengahan tahun ini. Kawasan industri itu, nantinya menjadi pilot project (Proyek percontohan) untuk daerah produsen jagung yang lain di Tanah Air,”kata sekjen Dewan Jagung NasionalMaxdeyul Sola kepada Investor Daily di Jakarta, selasa (27/1).

Maxdeyul memaparkan, di masing-masing pulau tersebut tersedia lahan sawah 6.000 hektare (ha) dan lahan kering 6.000 ha. Masing-masing pulau akan menghasilkan sedikitnya 30 ribu ton jagung pipil setiap panen, dengan kemungkinan panen tiga kali setahun.

Ia menjelaskan, perusahaan berencana membangun industri jagung terpadu, yang menghasilkan tepung, pakan ternak, gas metana, hingga etanol. “Semua produksinya akan diekspor. Industri ini juga diharapkan meningkatkan penyerapan jagung di dalamnegeri, di tengah ancaman kelebihan pasokan (over supply) sebesar 6 juta ton tahun 2009,” paparnya.

Pada masing-masing pulau, investor berencana membangun 10 silo (gudang) dan dryer (pengering) dengan kapasitas 100 ton. Setiap silo membutuhkan investasi Rp 2 miliar.

Perusahaan juga berniat membangun pelabuhan bongkar muat untuk jagung curah maupun peti kemas di setiap pulau, yang bisa melayani kapal berkapasitas sampai 50 ribu DWT (bobot mati). Pantai dikedua pulau tersebut dalam, karena berbatasan dengan laut lepas, sehingga kapal besar bisa langsung bersandar.

“Pelabuhan semacam ini efisien untuk ekspor jagung pipil, karena kapal besar langsung bisa bersandar sehingga tidak memerlukan tongkang. Dari kawasan itu bisa disediakan jagung pipil 3.000-5.000ton sekali angkut, jelasnya.

Pada kesempatan terpisah, Direktur Pusat Perizinan dan Investasi Departemen Pertanian (Deptan RI) Mohammad Dani mengatakan, kedua perusahaan Korea tersebut melakukan penjajagan dan studi kelayakan awal 2008. Selain investasi di pulau yang dikhususkan untuk pengembangan tanaman jagung, mereka merencanakan beragam proyek yang membutuhkan areal yang luas.

Produksi 15 Juta Ton

Maxdeyul menjelaskan, produksi jagung nasional diperkirakan mencapai 15 juta ton pada 2009. Produksi melebihi daya serap industry pakan yang maksimum 9 juta ton, sehingga tahun ini diperkirakan over supply jagung 6 juta ton.

“Kelebihan pasokan itu harus diekspor. Selama ini, ekspor jagung pipil Indonesia kurang dari 300 ribu ton per tahun,” ucapnya.

Namun, lanjutnya, harga pembelian jagung di dalam negeri kini lebih mahal dibandingkan di pasar internasional. Di tingkat petani saja, harga beli jagung (kadar air 17%), sudah mencapai Rp 1.700-1.800 per Kg. Di Indonesia wilayah timur dan Rp 1.600 per Kg di Indonesia wilayah barat.

Sementara itu, harga jagung pipil internasional dengan masa simpan 2-3 tahun berkisar US$ 150 per ton (Rp 1.703 per Kg), atau turun dibanding Desember 2008 yang sebesar US$ 160 per ton. Untuk jagung fresh (1-3 bulan pascapanen) dari Indonesia, importir berani menghargai 5%-10% lebih tinggi disbanding jagung dengan masa simpan 2-3 tahun.

“Kami berharap, industri hilir pengolah jagung tumbuh pesat, sehingga membantu menyerap kelebihan pasokan pada 2009,” tuturnya.

Sejak 2007, lanjut maxdeyul, Indonesia kehilangan satu industri pengolah jagung, yaitu PT Suba Indah Tbk. Sebelum ditutup dan asetnya dialihkan ke Bank Mandiri, pada 2007, perusahaan mampu menyerap 300 ribu ton jagung pipil untuk memroduksi tepung.

“Dewan Jagung Nasional kini berencana mengusulkan kepada pemerintah untuk diberi hal mengelola PT Suba Indah, lewat Kerja Sama Operasi (KSO) dengan perusahaan swasta. Suba Indah bias tetap beroperasi dan menyerap kelebihan produksi jagung di Tanah Air,” imbuhnya. Sumber; Investor Daily, 28 Jan 2009

Read more...
 
Produksi Kedelai Dunia Turun PDF Print E-mail
Written by Gopan Indonesia   
Thursday, 05 March 2009

Produksi kedelai dunia pada 2009/2010 diperkirakan terus menurun. Karena para petani banyak yang beralih menanam jagung.

“Produksi kedelai dunia diperkirakan terus turun, karena lahan di negara-negara produsen seperti Amerika Serikat (AS), Brazil, Argentina, dan Tiongkok kini ditanami jagung,” Ujar perwakilan Asosiasi Petani Kedelai Amerika (ASA) di Indonesia Ali Basry Kepada Investor Daily di Jakarta pecan lalu.

Ia memroyeksikan, stok kedelai dan jagung yang diperdagangkan dunia menipis menyusul rencana pemberlakuan EU Directive per 1 Januari 2010. Ketentuan baru Uni Eropa (UE) itu kemungkinan melarang impor dan penggunaan biodiesel sawit di Eropa mulai 2010.

Pada 2006, stok jagung dunia sudah mulai menyusut, dari tahun sebelumnya sebesar 124 juta ton menjadi 88 juta ton. Sementara itu, produksi jagung global 2006 yang sebesar 690 juta ton sudah tidak bisa mengimbangi permintaan yang mencapai 740 juta ton. Pada 2007, produksi jagung dunia juga hanya 770 juta ton, lebih kecil dari konsumsi yang berkisar 774 juta ton.

“Jika akhirnya biodiesel sawit dilarang digunakan di UE mulai 2010, berarti penggunaan biofuel (Bahan Bakar Nabati/BBN) di Eropa akan diganti dengan yang berbahan baku jagung dan kedelai.Tahun itu, produksi tiga produsen kedelai utama dunia (AS, Brazil, Argentina) diperkirakan tersedot ke Eropa,” ucap Global Coordinator International Service for the Acquisition of Agri-Biotech Application (ISAAA) Randy A Hautea.

Randy memperkirakan, pasokan yang tersedot ke Eropa itu membuat volume kedelai dan jagung yang diperdagangkan di luar ketiga negaratersebut terpangkas 50%. Tahun lalu, Tiongkok yang sebelumnya mengekspor jagung sudah mulai mengimpor 1 juta ton, sedangkan Malaysia mengimpor 5 juta ton, Indonesia sekitar 1 juta ton, dan Taiwan 1 juta ton.

“Kondisi ini merupakan peluang bagi Indonesia untuk memasok kebutuhan jagung dan kedelai dunia, karena iklim di sini bagus untuk tanaman tersebut”, jelasnya.

Ia mengungkapkan, kebutuhan jagung impor di negara-negara Asia tahun lalu sebanyak 35 juta ton, yang dipasok dari Brazil, Argentina, dan AS. Sementara itu, pemakaian jagung untuk etanol di AS terus naik. Jika pada 2005 pemakaian jagung untuk etanol sebesar 50 juta ton atau 20% dari kebutuhan nasionalnya, tahun 2006 naik menjadi 55 juta ton (22%) dan tahun 2008 diperkirakan meningkat ke 82 juta ton (30%).

Harga Naik

Kemarin, sebagaimana dilansir Bloomberg, harga kedelai dan jagung dunia naik. Kenaikan itu dipicu spekulasi penurunan kurs dolar AS akan memicu peningkatan impor.

Selama tiga hari terakhir, kurs dolar AS melemah terhadap euro dan indeks harga saham di bursa Asia naik. Kondisi ini memicu spekulasi pemerintah AS bakal meningkatkan sahamnya di Citigroup Inc, guna meredam krisis financial global dan memulihkan kembali pertumbuhan ekonomi.

Spekulasi bahwa tiongkok akan menaikkan impor biji-bijian bahan baku minyak tahun ini, membuat harga kedelai naik 3,8% kemarin. Untuk kontrak pengiriman Mei 2009, harganya menembus US$ 8,96 per bushel (27,2 kilogram). Rekor harga tertinggi mencapai US$ 16,37 per bushel pada Juli 2008.

Untuk jagung, harga kontrak Maret 2009 naik 2,3% menembus US$ 3,58 per bushel. Harga mencapai rekor tertinggi pada 27 Juni 2008 sebesar US$ 7,99 per bushel.

China National Grain and Oils Information Center menyatakan, pembelian kedelainya akan ditambah 180ribu ton dari tahun sebelumnya. Perusahaan negara itu memroyeksikan, impor Tiongkok meningkat 0,5% ke rekor tertinggi 38 juta ton hingga akhir tahun buku September 2009. Pengimpor kedelai terbersar itu juga membeli kedelai local, untuk mendongkrak pendapatan di pedesaan.

Semula, Departemen Pertanian AS (USDA) memperkirakan impor negara itu anjlok 1,8 juta ton tahun ini.

Situasi Indonesia

Di sejumlah daerah di Indonesia, harga kedelai yang sebelumnya sempat turun, kini naik kembali. Di Kota Pekalongan, Jawa Tengah, para perajin tahu dan tempe mengeluhkan kenaikan harga itu, yang membuat mereka kesulitan meningkatkan usaha. Sumber: Investor Daily 24 Feb 2009

Read more...
 
Direktur Perbibitan Fasilitasi Peternak PDF Print E-mail
Written by Gopan Indonesia   
Tuesday, 03 March 2009

Image

Direktur Perbibitan Dr Ir Gunawan MS, berkenan berfoto bersama dengan peternak usai rapat koordinasi. Foto; Saptono Adi Muryanto/gopanindonesia.com

Image

Gejolak perunggasan terus berlangsung seperti tak terkendali. Masih hangat dalam ingatan kita akhir November 2008 lalu, industri perunggasan nasional dihantam oleh merosotnya harga hingga pada angka Rp 8.000,- an. Padahal saat itu, HPP masih berkisar pada angka Rp 12.500,-an. Keadaan ini berlangsung hingga akhir Januari 2009. Pada periode ini, bisa dihitung berapa kerugian peternak.

Untunglah setelah itu, harga bisa dikatrol hingga bergerak naik. Sayangnya, gejolak lain segera menyusul. Harga DOC menyodok hingga mencapai harga ‘psikologis’. Ketika itu, harga DOC berkisar pada angka Rp 3.500,-/ekor. Keadaan ini memaksa peternak untuk benar-benar cermat dalam mengatur pola chick in-nya. Bahkan salah seorang peternak mengatakan, pasar di Bulan Pebruari 2009 jelas tidak ada harapan. “Harga DOC yang tinggi, jelas akan membuat HPP membengkak”, katanya saat itu.

Gejolak tidak berhenti. Harapan recovery pada musim hajatan (Mulud 1942) bulan Maret 2009 ini, dikacaukan oleh hantaman harga DOC yang mencapai angka lebih dari Rp 4.000,-/ekor pada akhir Pebruari 2009. Seperti terbentur tembok, peternak lantas menginformasikan perihal ini kepada pemerintah cq Direktorat Perbibitan.

Pemerintah pun bertindak cepat. Direktur Perbibitan Dr Ir Gunawan MS segera memanggil peternak untuk berkoordinasi. Maka digelarlah rapat pada tanggal 27 Pebruari 2009. Rapat berlangsung di Aula Direktorat Perbibitan, dan dipimpin langsung oleh Direktur Perbibitan.

Hadir pada rapat itu, Anas Sudjatmiko selaku ketua PPUN, Sigit Prabowo (PPUN), Ahmad Johar (PPUN), Sugeng Wahyudi (PPUN), Djodi Hario Seno selaku ketua (PPUB), Hasanuddin (PPUB), dan Tri Hardiyanto, serta Setya Winarno dari (GOPAN).

Melalui pertemuan yang berlangsung, Direktur Perbibitan menyatakan akan memfasilitasi. “Masalah seperti ini sudah sering terjadi”, katanya. “Kita harus pandai-pandai menyiasatinya”, lanjut alumnus UGM ini. Ayam ras di Indonesia, sudah berkembang ke ranah industri. Sehingga pemerintah akan memposisikan diri sebagai fasilitator. Pemerintah akan mengatur keseimbangan antara stakeholder. “Pemerintah akan mengingatkan, bila ada yang kurang pas. Pemerintah akan mengkomunikasikan”, kata Gunawan kepada peternak.

Mengatur melalui GPS

Dari permasalahan yang ada, pemerintah sebenarnya sudah mengaturnya melalui pemasukan GPS. Dari pengaturan ini, penyediaan bibit ayam ras sebenarnya sudah bisa diprediksi. Namun, tentu tidak bisa menjamin masalah akan selesai. Untuk itu, pemerintah akan berkomunikasi dengan breeder, untuk mendapatkan win win solution.

Untuk jangka panjang, pemerintah akan bekerja sama dengan GOPAN, untuk menyiapkan konsep pengaturan suplay DOC. “Harus ada strategi fundamental  agar permasalahan serupa bisa dikendalikan”, kata Direktur yang sejak SMP mendapat beasiswa ini.  “Adapun untuk jangka panjang, perlu diadakan suatu komunikasi intensif didalam kerangka silaturrahim, sehingga tercipta atmosfir yang lebih elegan”, paparnya. “Kita harus sama-sama hidup dan berkembang. Semua harus berjalan seiring, saling menguntungkan”, pungkasnya. Saptono Adi Muryanto

Last Updated ( Friday, 13 March 2009 )
Read more...
 
Deptan Gelar Koordinasi Pakan 2009 PDF Print E-mail
Written by Gopan Indonesia   
Sunday, 22 February 2009

Image

Drh Djajadi Gunawan MPH, membuka Rakor atas nama Ditjennak Deptan RI. foto; Saptono Adi Muryant/gopanindonesia.com

Pakan adalah satu dari tiga faktor penting dalam struktur produksi budidaya unggas, selain ketersediaan bibit dan manajemen budidaya. Bahkan lebih 70% dari seluruh struktur biaya produksi diserap oleh pakan. Besarnya porsi biaya pakan dalam struktur biaya produksi ini, menyebabkan pakan selalu berada pada titik kritis, khususnya jika dikaitkan dengan ketersediaan bahan baku.

Berdasarkan latar belakang diatas, Departemen Pertanian melalui Direktorat Jenderal Peternakan menggelar rapat koordinasi agar kebutuhan bahan baku pakan ternak tahun 2009 dapat dipenuhi dengan baik. Rapat berlangsung pada Rabu, 11 Februari 2009 di Gedung E Deptan RI.

Acara dibuka oleh Direktur Budidaya Ternak Non Ruminansia Drh Djajadi Gunawan MPH, mewakili Direktur Jenderal Peternakan. Turut hadir pada acara tersebut, anggota Komisi Pakan Ditjennak, Ketua Umum GOPAN Ir Tri Hardiyanto, Ketua Badan Pengurus Pusat GPMT Budiarto Soebijanto dan stakeholders pakan lainnya.   

Selain dari Ditjennak, tampil pula Direktur Sereallia, dari Direktorat Tanaman Pangan untuk menyampaikan perihal ketersediaan jagung dan dedak. Dan Direktur Pengolahan dari Direktorat Jenderal P2HP DKP.  

Tujuan dari Rakor ini adalah; untuk memfasilitasi pertemuan antara pihak yang memroduksi bahan baku pakan dan pengguna yaitu, pabrik pakan ternak dan importir bahan baku pakan.

Dalam pertemuan ini, diharapkan dapat diketahui ketersediaan bahan baku pakan lokal, dan jumlah kebutuhan dari bahan baku tersebut untuk pakan ternak untuk tahun 2009. “Semua ini agar tercapai suatu harmonisasi antara suplay dan demand”, kata Djajadi Gunawan.

Last Updated ( Sunday, 22 February 2009 )
Read more...
 
RocketTheme Joomla Templates